dokterleonardo's Blog

Lidahku, lidahmu adalah penipu

Posted on: 15 December 2012

Hai..
(sayang, aku rindu, aku tak bisa tahan gejolak di kepalaku. Milyaran sel otakku serasa meledak mengingatmu. Ruang dan waktu memang sudah memisahkan kita sejak lama, tapi kali ini kitapun punya sebongkah tembok pemisah. Tembok yang kita bentuk karena ketakutan tak beralasan. Sesuatu yang sama tidak logisnya dengan rasa cinta. Aku ingin berbagi sejuta kata dengan bibirmu, seperti pagi pagi pagi dan pagi sebelumnya. Tapi aku tau, pagi ini bagianku hanya “hai”)

Hai…
(sayang, aku rindu. Embun terasa hangat saat pesan singkat “hai” mu datang. Mungkin cermin yang pertama menyadari rona merah pipiku. Kau tau aku menunggu salam pagimu sejak bulan masih merajai cakrawala. Kala awan masih memilih butiran mana yang akan diterjunkan menjadi butiran-butiran embun, tapi pagi ini aku hanya boleh mengucapkan “hai” ku)

Apa kabar?
(semoga pertanyaan singkat ini dapat memancing banyak obrolan sayang, lidahku kelu. Hari-hari yang kupaksakan untuk diam tanpa kata-kata tenyata membekukan ototnya. Lidah ini butuh memuntahkan puisi-puisi indah, seperti siang malam saat kita bergandengan tangan di sepanjang trotoar penuh debu dikota itu)

Baik.. Kamu?
(kepalaku berat, seluruh ototku menggigil, tulang ku bagai rapuh. Tak seinchi pun tubuhku dapat seiring dengan jawabku sayang. Aku sungguh rindu merebahkan kepalaku di bahumu. Merasakan jemari yang mengusap puncak kepala hingga ujung rambutku. Bercampur amora candumu yang selalu aku proteskan, membahas pola makanmu yang selalu buat aku kesal, melihat kau malah girang saat bibir tipisku yang kamu kagumi meluncurkan omelan-omelan manjaku, tapi sungguh aku akan bayar dengan apapun untuk mendapatkan hal itu pagi ini)

Baik
(sudah tentu sakit sayang. Bagaimana bisa aku menghirup udara saat semua otot-otot pernafasanku mogok nafas, mereka memilih mendukung sel-sel otak untuk bahu-membahu membawa imajiku ke bayangmu. Mereka seolah kompak mendorongku melihat ke langit dan memaksakan agar awan tampak bagai siluetmu, aku sungguh rindu)

Bye..
(mungkin kau sudah ikhlas, aku malu untuk ungkapkan rasaku. Aku hanya ingin yang terbaik di jalanmu. Semoga kau tidak tutup obrolan ini)

Bye..
(yah, obrolan ini sudah ditutup. Aku masih ingin berbagi kata sayang, berbagi rasa perih yang kurasa saat berjalan sendiri. Ketika semua mata memandangku iba, Aku ingin kisahkan semua ke mata teduhmu, seperti saat kita bergandengan di trotoar itu lagi)

Sungguh, percakapan yang indah…
Tetapi tidak adekuat dengan harapku, mungkin juga harapmu..
Setidaknya ada beberapa huruf yang melukiskan puluhan kalimat dalam pesan singkat itu…
Dan hanya kita yang tau, hanya kita yang paham, hanya kita yang rasa…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Advertisements

    • Bayu Fajar Pratama: *idul adha maksud saya dok hehe :D
    • Bayu Fajar Pratama: Harus potong kambing lagi dong saya, dok -_- Selamat hari raya iduladhs. Mohon maaf lahir dan batin ya dokter :)
    • dokterleonardo: Hahahaha, iya bay.. tuker nama bay... terlalu banyak nama bayi di contact gw 🤣🤣

    Categories

    %d bloggers like this: