dokterleonardo's Blog

Author Archive

rindu

yang kubuang jauh jauh sejak perjalanan panjang papa dimulai
aku takut terjebak dalam rindu
aku tidak akan sanggup menahan bulir air mataku terjatuh kedalam rindu

maka aku ciptakan papa baru di rumah
aku tanamkan sosok papa masih berkeliaran di rumah kita
semua yang aku rasa akan papa lakukan seandainya ada di rumah, kulakukan
semoga dengan suasana itu tidak ada satupun yang akan kehilangan

satu persatu musuh muncul, kutangkis dengan kuat
sesekali mereka menusukku tajam
ada yang harus kupendam sendiri tanpa membiarkan satupun tau luka kita
semua harus tetap terlihat baik baik saja

sampai lukaku pulih dan siap kembali bertarugn untuk mereka

tapi ternyata berdiri di posisimu bukanlah hal mudah
dua tingkat pendidikan yang kau titip di kepalaku melebihi ilmumu
tak membuat semua masalah yang datang dapat kuhadang mudah

aku berkali-kali terperosok dalam kegagalan

aku masih bangkit untuk bertarung lagi
hari ini
tak terpikirkan untuk esok atau lusa
entahlah di masa-masa yang akan datang

ketika hantaman itu datang saat aku lengah

aku hari ini masih bertahan
aku hari ini masih kuat
dan aku hari ini masih rindu

apa yang akan papa lakukan kalau berdiri di tapakku hari ini?

Advertisements

dulu, mukaku tertunduk

sesekali aku melirik wajar merah padammu dari sudut mataku, khawatir rautnya menjadi makin padam dan mengeluarkan bentakan

sesekali aku salah tingkah karena tak mampu berada dalam posisi benar, layaknya pintamu, aku tertekan cecar pertanyaanmu meminta alasan atas sikapku

bocah nakal yang terpojok saat ketahuan

 

sore ini kupandangi dengan tatapan menguasai, dia cucumu

persis seperti yang kulakukan dulu, dia menunduk mengintip sesekali dan terlihat salah tingkah saat berhadapan dengan ayahnya yang marah.

 

dulu, aku kesal tak terbendung

aku tak habis pikir, apa sih susahnya bagimu untuk membiarkanku bersenang-senang dengan dunia anakku, bermain sepuasku, tanpa ada yang harus membatasi. kenapa di mulutmu hanya belajar belajar dan belajar yang terlontar. aku muak

 

tadi kulihat raut protes cucumu, aku tau dia memikirkan apa yang kupikirkan dulu pa, sewaktu aku memprotesmu dalam benakku, ya aku tak berani menentangmu. sama seperti dia yang tak mampu menentangku

aku hanya memintanya memberikan porsi lebih pada sekolah dibandingkan kesenangannya. persis seperti yang kau inginkan dulu

aku dalam tekanan, semua beban ada dipundakku, semua rencana menumpuk di kepalaku. seolah-olah hanya aku yang harus memikul semua. aku merasa nyaris putus asa menjadi pusat dari semua perlindungan. aku kadang hanya tertunduk dalam doa.

aku yakin, kaupun berada dalam posisi ini dulu saat memimpin kami

berhadapan dengan segala masalah, memasang badan kekarmu untuk menjadi tameng kami.

kau marah jika kami tak sesuai inginmu

kami takut, kami tunduk, kami kesal, kami protes, kami tak mampu memahami jalan pikiranmu dulu

kalau aku boleh memilih.

aku memilih duduk tertunduk di posisi cucumu

menghadapi kemarahanmu saat kau masih sangat kuat untuk kami semua

sembuhlah pa

abang rindu

Aku terjaga dalam kantukku Menempuh lelap yang kutepis 

Tanpa mampu melepaskan khayalku pada merah putih, dan gemilang kibar bendera di pelupuk mataku

Mungkin akan kunanti hingga tidurku merangkai bunga bunga mimpi
Aku berpuasa dalam haus kerontangku

Menghanyutkan butir butir embun melintasi kelopak mataku

Tak setetespun kutenggak menangkal dahagaku

Kering aku meranggas dan layu
Ketika nada nada indah hanya berlalu 

Dan aku tetap pada denting sumbang yang kuyakini
Ketika peluk hangat tersisa memoir

Tubuh dingin ini selalu membara

Aku ingin membuai Aku harap membelai

Kuyakin muncungku tak berirama Meski tanganku kasar

Aku masih merasa kau tau

Kau tau arti rindu?

Ketika nyeri menahan masifnya sesak

Helaan tak masukkan apapun

Hembusan tak keluarkan satupun

Semua terjebak dalam rongga sempit

Gelap hitam menanti cahaya biru keemasan

 

Sendu kelebat sinar mata kebanggaan

Seolah membaur bagai untai embun

Jatuh membasuh ujung sepatu larsku

Memberikan titik titik dingin di pucuk panas senjataku

Embun pagi yang terus memompa ototku berlatih

 

Langkah terseok kakiku, berkali-kali terniat kuhentikan

Namun, aku mendengar burung-burung tak berkicau biasa

Celoteh tak bermakna kesayangan hadir mengisi

Menahan pasrahku, memaksa tapak ini terus melangkah

Kicau burung terilusi semangat pagiku

 

Dan aku yakin kupu kupu rumah gadang

Terus menangkupkan tapak tangannya

Memohon apapun demiku

 

Tak lama lagi

nak, empat puluh lima menit lagi menjelang harimu

Ayah ingat semua detil yang akan ayah sampaikan dalam ucap lirih doa untukmu

Ayah akan terus membisikkan, menyebutkan, menyerukan, bahkan meneriakkan namamu dalam doa singkat yang ayah panjatkan pada Dia sang maha segalanya. Singkat, sesingkat malu ayah akan dosa-dosa dan segala sisi hitam ayah.

Aku tepis malu ini, demi mengucapkan permohonan kesehatan atasmu.

Sayang, empat puluh lima menit lagi menjelang usia setengah jari tanganmu.

Ayah masih berjuang dalam keringat, kepenatan, kegelisahan, kelelahan

Ayah masih berjuang dengan segenggam darah tersisa.

Ayah masih berada di dingin kelam malam, memasang pondasi kokoh masa depanmu.

Tak satupun ketakutan dalam perjuangan ini.

Kau tau, aku tau, kami tau, mereka tau…. Ini semua demi senyum jahilmu nak.

Putraku, empat puluh lima menit lagi menjelang hari yang kau nanti

Ayah masih belum menjadi gatot kacamu, belum menjadi tujuh manusia harimaumu

Ayah bukan pahlawan yang tanpa cela, dengan kesedihan bertubi-tubi yang kubebankan padamu

Yang kau hadapi dengan kejenakaan bocahmu, bengal naluri jantanmu, keras kepala pintarmu.

Sungguh ayah tidak sanggup menakar jiwa besar dalam sosok tubuh ringkih mungilmu nak

Abang raja…

Dalam setiap butir keringat ini, dalam setiap keberanian ini, dalam lirih doa ini

Tanpa kau sadari, tanpa kau mengerti, tanpa kau perhatikan

Ayah lakukan demi masa depanmu

Selamat bertambah usia nak.

Semoga kau kuat seperti mimpiku

#ayah, bunda dan adik kecil mu

Posted on: 8 August 2015

– with Andy

View on Path

Posted on: 16 July 2015

Tertegun mendengarkan suara takbir menggema di langit pekanbaru
Baru menyadari esok adalah Idul Fitri yang dinantikan
Sontak semua pandang terisi sosok wajah anak gadis kesayangan, istri tercinta, dan adik perempuan semata wayang

Baru mengerti, tak ada kemenangan yang kuimpikan selain berkumpul bersama kalian.

Keluarga besar Rancho, Bani Eddy, Lintau….

Seandainya jarak dan waktu dapat kulipat, sudah barang tentu jabat tangan penghantar maaf sudah kuhaturkan pada kalian semua.

Dengan segala kerendahan hati….
Mengucapkan Mohon maaf lahir dan bathin…
Selamat merayakan Idul Fitri

-abang leo dan abang raja- – with Dieci, Sandi, Sinta, Tina, Erina, Adrianto Putra, Tanya Rakhmawati Anggara, Tri Regi, Arianita Putri, Viphris, Queena, Arinda, Viphris, Revi, and medii

View on Path


Advertisements

    • Bayu Fajar Pratama: *idul adha maksud saya dok hehe :D
    • Bayu Fajar Pratama: Harus potong kambing lagi dong saya, dok -_- Selamat hari raya iduladhs. Mohon maaf lahir dan batin ya dokter :)
    • dokterleonardo: Hahahaha, iya bay.. tuker nama bay... terlalu banyak nama bayi di contact gw 🤣🤣

    Categories