dokterleonardo's Blog

Archive for the ‘batu loncatan’ Category

Seperti roti isi,
ya begitulah kira-kira yang kubayangkan.
Dua lapis roti tawar yang mebungkus berbagai jenis daging setengah matang yang menggiurkan di tengahnya.
Makanan ringan, dan dapat ditelan dengan beberapa kali gigitan saja.

Bermula dari kosong dan dimulai dengan roti tawar.
Roti tawar yang dibentuk dari adonan harapan, telur janji, dan bumbu komitmen.
Diaduk dengan segala daya upaya, sekuat tenaga.

Untuk keberhasilan si roti tawar, ada hadiah
Selapis hati, sayuran segar warna-warni, ditaburi saos segala rasa
Dipanggang oleh dua tangan yang menggenggam erat

Dan agar disebut roti isi, kini harus ada si roti tawar lagi.
Dibuat dari adonan putus asa, telur kecewa dan tak ada bumbu yang tersisa.
Diaduk dengan sisa tenaga, dan beberapa butir air mata.

Bagaimana tidak,
Roti tawar kedua pertanda roti telah usai.
Tiada lagi kenikmatan memasak disana.
Semua harus dicuci bersih, tak tersisa

Dan roti isi itu hanya bertahan 100 hari
Diantara dua petambahan usia
Menyisakan rasa manis di lidah yang perlahan berganti getir.

Beberapa saat sebelum aku, dan beberapa saat sebelum kamu

Entahlah apakah masih ada gurihnya roti isi di lidah kita

#pekanbaru – 26 Desember 2012
PA

Advertisements

hanya undakan
foto diambil oleh : L.E.

tangga naik?
atau tangga turun?

tergantung anda melihat dari sisi mana..
dari sisiku atau sisi seberangku?
aku memandang dari seberang foto, dan sudah tentu aku melihat undakan yang tersusun menurun..

nothing but feeling

Hai..
(sayang, aku rindu, aku tak bisa tahan gejolak di kepalaku. Milyaran sel otakku serasa meledak mengingatmu. Ruang dan waktu memang sudah memisahkan kita sejak lama, tapi kali ini kitapun punya sebongkah tembok pemisah. Tembok yang kita bentuk karena ketakutan tak beralasan. Sesuatu yang sama tidak logisnya dengan rasa cinta. Aku ingin berbagi sejuta kata dengan bibirmu, seperti pagi pagi pagi dan pagi sebelumnya. Tapi aku tau, pagi ini bagianku hanya “hai”)

Hai…
(sayang, aku rindu. Embun terasa hangat saat pesan singkat “hai” mu datang. Mungkin cermin yang pertama menyadari rona merah pipiku. Kau tau aku menunggu salam pagimu sejak bulan masih merajai cakrawala. Kala awan masih memilih butiran mana yang akan diterjunkan menjadi butiran-butiran embun, tapi pagi ini aku hanya boleh mengucapkan “hai” ku)

Apa kabar?
(semoga pertanyaan singkat ini dapat memancing banyak obrolan sayang, lidahku kelu. Hari-hari yang kupaksakan untuk diam tanpa kata-kata tenyata membekukan ototnya. Lidah ini butuh memuntahkan puisi-puisi indah, seperti siang malam saat kita bergandengan tangan di sepanjang trotoar penuh debu dikota itu)

Baik.. Kamu?
(kepalaku berat, seluruh ototku menggigil, tulang ku bagai rapuh. Tak seinchi pun tubuhku dapat seiring dengan jawabku sayang. Aku sungguh rindu merebahkan kepalaku di bahumu. Merasakan jemari yang mengusap puncak kepala hingga ujung rambutku. Bercampur amora candumu yang selalu aku proteskan, membahas pola makanmu yang selalu buat aku kesal, melihat kau malah girang saat bibir tipisku yang kamu kagumi meluncurkan omelan-omelan manjaku, tapi sungguh aku akan bayar dengan apapun untuk mendapatkan hal itu pagi ini)

Baik
(sudah tentu sakit sayang. Bagaimana bisa aku menghirup udara saat semua otot-otot pernafasanku mogok nafas, mereka memilih mendukung sel-sel otak untuk bahu-membahu membawa imajiku ke bayangmu. Mereka seolah kompak mendorongku melihat ke langit dan memaksakan agar awan tampak bagai siluetmu, aku sungguh rindu)

Bye..
(mungkin kau sudah ikhlas, aku malu untuk ungkapkan rasaku. Aku hanya ingin yang terbaik di jalanmu. Semoga kau tidak tutup obrolan ini)

Bye..
(yah, obrolan ini sudah ditutup. Aku masih ingin berbagi kata sayang, berbagi rasa perih yang kurasa saat berjalan sendiri. Ketika semua mata memandangku iba, Aku ingin kisahkan semua ke mata teduhmu, seperti saat kita bergandengan di trotoar itu lagi)

Sungguh, percakapan yang indah…
Tetapi tidak adekuat dengan harapku, mungkin juga harapmu..
Setidaknya ada beberapa huruf yang melukiskan puluhan kalimat dalam pesan singkat itu…
Dan hanya kita yang tau, hanya kita yang paham, hanya kita yang rasa…

Apa…!!
Tutup mulutmu..!!

Aku tak ingin dengar rengekmu.
Aku tak ingin dengar keluhmu.
Aku tak ingin tau rasamu.

Aku tak izinkan kau berucap
Aku tak izinkan kau bersajak

Aku tak peduli kau benar menurutmu
Aku tak peduli kau hanya mengadu
Aku tak peduli kau butuh luapkan

Aku hanya ingin kau diam
Aku hanya ingin kau berbuat
Aku hanya ingin kau menanti

Ayah : “karena aku ingin kau kuat nak, aku ingin kau tak goyah, aku tak suka kau ragukan cinta ayah, aku tak suka kau ragukan keayah-anku.”

Anak : “aku hanya ingin ucapkan cintaku yah, demi tuhan… Hanya kata-kata cinta untuk ayahku..”

Kerjaanku berat..
Penjual makanan itu jujur..
Aku sok tau..
Dan, ini semua gara-gara kamu..

Akan kuuraikan satu persatu supaya kamu paham..

Kesalah pahaman kecil di depan kulkas penyimpanan mayat tadi pagi mengakibatkan otopsi pagi berganti jadi otopsi siang. Bagaimana tidak, kami tidak diajari memotong tubuh kaku bagai balok es. Dan tentunya akan banyak sekali kesalahan jika dipaksakan. Banyak organ yang akan terpotong tak sengaja oleh pisau-pisau tajam kami.

Sembari menunggu tubuh keras bagai gunung es itu lumer, asam lambung kian menggerus lapisan lendir di dinding lambung yang mungkin sudah tipis pada beberapa bagian. Ulahku sendiri karena mengorbankan bagian itu untuk mengurangi timbunan lemak di perut lain. Tiga periode pengaturan diet tidak sehat aku paksakan.

Hasilnya, aku dianugerahi rasa perih jika terlambat mengisi lambung ini.

Kembali ke mayat beku kami, tubuhnya mulai melunak. Air yang sengaja dialirkan melewati tubuh dingin itu tenyata membawa serta suhu rendah yang mengganggu kami ke selokan, muaranya.

Kami siap, kami sudah regangkan otot untuk membongkar semua rahasia kematian yang disimpannya. Tapi, panggilan Allah lewat adzan jumat membuyarkan niat.
Kami harus menemui sang maha tau. Rahasia ini bisa menunggu beberapa saat untuk kami ungkap.

Peregangan kedua pun tiba, pisau-pisau kami bagai berkilauan saling unjuk tajam, agar dipilih sebagai sipemotong. Seolah bersaing dengan hasrat kami. Menguak rahasia mati si mayat. Semampunya.

Tak satupun hal kecuali kamu dan sibocah kecil itu yang dapat mengalihkan keingintahuan aku pada sebab mati. Tapi kali ini, gangguan muncul dari selaput lendir di balik dinding lambungku. Asam kuat yang menggerus seluruh permukaan kosongnya menjalar hingga otak. Seandainya kamu tau, sudah barang tentu aku menerima omelan manjamu.

Teguran bu guru, menjadi bukti tidak fokusnya aku pada tujuan team.
Malu, aku malu ditegur.
Aku ingin menjadi pemuas para guru.
Para guru kematian, para peramal masa lalu yang sungguh aku kagumi.

Walaupun begitu, tujuan tetap tercapai, rahasia mulai terkuak. Kami hanya menunggu konfirmasi dari para pemikir di depan mikroskop.
Para ahli potongan tubuh. Membuktikan tuduhan kami benar. Dan dapat kami sampaikan kepada tuan pengadil di forum terhormat sana.

Rasa panas itu kembali menjalar

Dan, sungguh suatu kebetulan waktu datangnya beriringan dengan waktu renungku di saung depan rumah, ya.. Aku menyebut ruang singgah tubuh tak bernyawa ini dengan sebutan “rumah”.

Aku langkahkan kaki. Ke tempat dimana aku bisa memuaskan paru kotor, otak letih, otot tegang dan sudah barang tentu perut buntalku.
Sempat terfikir untuk sekedar mengisi sudut atas si lambung, namun siluet wajah cemberut kamu urungkan niat. Aku tak ingin senyum manja itu berubah jadi paras khawatir.
Aku melangkah mantap ke sektor makanan berat.. Berfikir beberapa waktu untuk memilih.
Sungguh sulit menetapkan pilihan.

Ada satu menu yang menarik sudut mataku, “ayam kelenger”.
Dibakar bersamaan dengan sambelnya pak, ujar koki muda itu.

Aku berdarah padang, tempatnya sipecandu pedas.
Ah seberapa pedas sih, aku tak percaya perut padangku tidak mampu mencerna

Kupilih asal menu itu.

Aku menyesal.

Ini diluar seleraku.

Siapa yang bisa kusalahkan?

Pedagang itu sudah peringatkanku sebelumnya.

Aku memilih salahkan kamu. Iya.. Kamu…
Kamu yang biasanya memilihkan menuku.
Seandainya kamu tidak terpisah ratusan mil dari aku, sudah barang tentu kau yang atur semua.
Sudah pasti kau tau apa yang aku butuhkan.
Dan tentunya rasa terbakar di lambungku tak perlu aku bawa pulang ke rumah.

Maaf, aku tak punya orang lain lagi untuk kusalahkan

Dan menyalahkan kamu adalah bentuk lain dari kerinduan yang amat sangat

“dah mamam ayaaah,…!”
“aja mamam mie,…!”

Berulang-ulang kuputar rekaman suaramu nak.
Putar panel volume hingga angka teratas.
Kutempel keliang telingaku dekat dekat, agar tiap detil alunan nada manjamu bisa kuresap.
Hanya pengeras suara mini dari telpon genggamku,
tapi akan kunikmati bagai harmoni indah mahakarya seni abadi di panggung pertunjukan penyair-penyair kolosal

RAJA DUARAMA PAHLEVI
RAJA DUARAMA PAHLEVI
RAJA DUARAMA PAHLEVI

Pernah kudengar dulu nasihat,
“kalau rindumu amat sangat pada anak cucu adam, panggillah namanya sungguh-sungguh.. Niscaya akan berkurang rindumu”

Aku sudah gaungkan dalam pikiranku, tidak membantu
Aku bisikkan, tidak membantu
Aku ucapkan lirih, tidak membantu
Aku sebutkan lantang, tidak membantu
Aku teriakkan kuat, rinduku makin membatu….

Separuh genetikku yang kau ambil, memanggil untuk pulang
Peluk tidur nyenyakmu dalam malam dingin di kota kita.
Tunggulah, aku akan ada disana
Mengajarimu tentang hidup

photo by: H.A.P

selamat pagi matahari.

kau terlihat malu-malu.

jingga subuh telah berganti dengan kemilau keemasan pertanda kau datang.

matahari, tolong sinari beberapa langkahnya pagi ini, aku takut dia masih menggigil karena malam tanpamu. hangatkan setiap inchi kulitnya, agar langkah kaki perjuangan menuju sanggar terasa ringan. agar rona merah pipinya terlihat oleh dunia.

senadainya aku disana dan sudah pasti terpana oleh sumringah cerianya dibawah kemilau pagi mu.

matahari tolong masuk perlahan lewat celah kisi jendela, elus mesra pipi bocahku, tapi kumohon jangan terlalu riang kau sentuh, aku takut dia tersentak dari tidurnya, meneteskan air mata karena tersadar aku jauh disini. sentuhlah lembut, agar ceria polosnya seirama dengan wajah tenang dalam tidur.

Seandainya aku disana, sudah tentu kudekap bocah itu erat.

matahari pagi, temani aku, hingga senja nanti. dimana aku, dia dan dia dapat bercengkrama di ujung letih. saat semua tugas usai, dan kami memiliki jeda hingga rutinitas esok.

photo by: H.A.P

selamat pagi matahari.

selamat pagi kalian

selamat pagi aku

 


Advertisements

    • Bayu Fajar Pratama: *idul adha maksud saya dok hehe :D
    • Bayu Fajar Pratama: Harus potong kambing lagi dong saya, dok -_- Selamat hari raya iduladhs. Mohon maaf lahir dan batin ya dokter :)
    • dokterleonardo: Hahahaha, iya bay.. tuker nama bay... terlalu banyak nama bayi di contact gw 🤣🤣

    Categories