dokterleonardo's Blog

Archive for the ‘darahku’ Category

aku mengalihkan rinduku pada letih

Kualihkan pada butir butir keringat

Kupacu setiap sel ototku berkontraksi

Agar aku tak mampu mengingat sosok kalian

.

Aku mengalihkan rinduku pada waktu

Kualihkan pada jarum jam yang terus berputar tanpa henti

Kubiarkan seluruh ragaku hanyut oleh masa

Agar aku tak sempat menyerukan nama kalian pada langit

.

Aku alihkan rinduku pada jenuh

Kualihkan pada jutaan kemacetan jalur berfikirku

Kubiarkan semuanya berkecamuk dalam benakku

Agar tak ada ruang untuk membayangkan kalian dalam pelukku

.

Aku alihkan rinduku pada amarah

Kualihkan pada ledakan emosi tak terbendung

Kubiarkan segala sumpah serapah mengisi tiap ucapku

Agar tak tersentuh nada nama kalian oleh lidahku

.

Aku alihkan rinduku pada Illahi

Kualihkan pada sajadahNya

Kubiarkan semua menenangkan jiwaku dalam perih

Agar Dia hentikan segala sesak ini

.

Sungguh aku merindu

Advertisements

Surat untuk anakku…

Entah tulisan ini akan engkau baca kelak, atau terhapus oleh zaman, tersembunyi dibalik ilmu pengetahuan yang terus menuntut ruang penyimpanan kepada para hamba ilmu sehingga letak surat ini akan terpojok di sudut kelam, atau bahkan engkau tidak pernah berniat menelusuri rekam sejarahmu, sekelebat kisah yang bisa kuingat saat ini.

Entah ayah masih bernapas di sampingmu saat tulisan ini kau baca, entah seperti apa kisah hidup kita kelak di masa yang akan datang, entah kau akan menangis membaca surat ini, entahlah nak.

Aku akan tetap menuliskan kisah ini.

Sama seperti jejaring sosial yang pernah kubuat atas namamu, agar dunia mendengar kedatanganmu, empat tahun yang lalu.

Saat ini ayah, bunda dan adik kecil dalam perut bunda terpisahkan sangat jauh dari sosok kecilmu. Kalau tidak salah kuingat tiga ribu dua ratus kilometer dari titik tempat kau berdiri sayang. Kelak kalau sudah bisa kau cerna bagaimana menghitung, akan kuajarkan cara menduga seberapa menit, jam, atau hari perjalanan yang harus kita tempuh untuk saling bertemu.

Surat ini bukan untuk membahas itu nak, aku ingin menceritakan lima kisah dari empat tahunmu.

Kelahiranmu adalah hadiah buatku, bukan buatmu. Aku mendapat kebahagiaan tak terkira saat itu. Tak peduli aku akan sedikitpun urusan dunia, ujian izin praktek yang gagal berkali-kali pun tak kuhiraukan demi memandangi wajah mungilmu nak. Tapi, Sang maha pemurah tak tanggung-tanggung memberikan hadiahnya, kelulusan kudapatkan bersamaan dengan kelahiranmu. Aku diberikan segala hal yang selalu menjadi mimpi dalam malam-malamku.

Tahun pertama adalah satu-satunya tahun dimana sebuah hadiah kecil mampu ayah berikan. Beriringan dengan doa, aku potongkan dua ekor kambing untukmu. Ratusan kerabat, relasi, guru, mahasiswa ayah memenuhi rumah kecil kita, ikut merayakan hari jadimu. Kau digendong puluhan orang bergantian bak raja. Iya serupa nama yang kutitipkan padamu.

Tahun kedua aku hadiahkan kau tetesan air mata. Sejuta prahara menerpa kita. Hanya ketegaran untuk bertahan yang bisa ayah persembahkan di hari jadimu. Aku ingat, disela pilu yang kala itu harus kutelan, aku sempat menghias potretmu. Kutuliskan beberapa kata dan janji disana. Kukuatkan hati kita untuk terus berjuang. Entah kau anggap itu kado atau tidak.

Tahun ketiga, aku sudah melupakan semua kiamat masa lalu kita. Tetapi belum dapat kuberikan kau pesta mewah seperti anak-anak bangsawan. Aku terikat perjanjian dengan ilmu. Aku yakin kau paham, ini demi masa depan kita kelak. Demi menyekolahkan kau setinggi yang bisa diharapkan anak manusia. Aku tuliskan beberapa bait puisi untukmu nak. Aku bukan pujangga, aku bukan sastrawan, aku hanya seorang ayah yang sedang meneteskan beberapa bulir air mata rindu. Rindu akan anakku yang meniup lilin ulang tahunnya sendiri.

Dan hari ini, disela tarian jemari lelah ayah pada tombol-tombol komputer ini, merangkai kata demi kata yang akan menjadi kunci untuk perkumpulan kita kembali, menyelesaikan perjanjianku pada ilmu, ayah tak kuasa menahan rindu. Hendak memelukmu kuat, membawamu berlari dan mengabulkan semua pinta.

Lima kisah singkatmu yang terlintas detik ini.

Yang cukup adequat mengantar logikaku pada lamunan.

Sebuah mobil mainan yang pernah kau pinta beberapa pasang hari yang lalu masih kuingat. Dan pasti kujanjikan dalam hati.

Selamat ulang tahun nak, selamat panjang umur, dan semoga semua doa dalam sujud ayah dan bundamu didengar oleh Penguasa Alam semesta.

#kamar jaga PPDS Forensik FKUI

-ayah-

Aku terduduk kekenyangan usai santap sahur sendirian di klinik tempatku bekerja.

Menahan mata setengah mengantuk usai membatu kesulitan pasien home care yang mengadu padaku tadi malam, selang invus yang terpasang padanya tidak mampu lagi menyalurkan cairan, entah tersumbat gumpalan darah, entah selangnya patah.

Saat segerombolan orang setengah berharap, setengah cemas, setengah bahagia masuk ke klinik berbondong-bondong.

Mereka membawa pakaian, kain, makanan, air panas.

Salah satu dari mereka jalan perlahan memapah perutnya yang membesar.

Ya, aku tahu…

Mereka menantikan kehadiran keturunan..

Biasa saja, tiada yang sangat istimewa..

Bagi kalian, bagi orang lain…

Tapi bagi mereka, dan bagiku ini sangat spesial.

Bagi mereka tentu, kenapa bagiku juga?

Ya.. kau tau..

Empat hijriyah yang lalu, tepat hari ini, dua ramadhan. Aku dipertemukan dengan malaikat kecil titipan Allah. Seonggok daging merah, bercampur lemak bayi, ditumbuhi bulu halus, menangis tanpa henti, kecil, sungguh, tapi bernyawa. Tangisnya tetap membahana saat kulafadzkan adzan ke telinga kecilnya, terpatah-patah, terbata-bata, bercampur cucuran air mata.

Air mata penuh bahagia,menyambut putra pertamaku. Gemetar penuh haru ku peluk sosok kecil itu.

Bahkan sampai hari ini, saat menuliskan sepatah kata tentang masa yang tak terganti itu, masih tersisa beberapa tetes air mata bahagia di sudut mataku. menetes tanpa kuasa membendung.

Dua Ramadhan yang kuselipkan dalam namanya sungguh membuatku rindu.

Rindu yang harus dipisahkan tiga ribu dua ratus kilometer.

Selamat hari jadi anakku sayang, ayah harus tutup tulisan singkat ini. Adzan subuh memanggilku, jangan khawatir nak, akan kusebut namamu berulang kali dalam sujudku.

Terima kasih atas rindu

 

 

aku bahkan lupa kepenatan berteriak dihantam gelombang kala perahu bulan madu kami menyusuri 3 pulau kecil nan elok di timur indonesia ini. Gili air, Gili trawangan, gili Meno.

bercengkerama dengan terumbu karang dan jutaan ikan kecil

disengat panasnya matahari laut

menipu mulut dua ekor ikan dengan potongan tentakel gurita ukuran sedang yang ditangkap dengan mudahnya oleh motoris kawak tadi.

mengayuh kaki berselaput katak dan sebelah tangan diatas riak gelombang kecil sembari sebelah tangan lain kami bertaut menggenggam kasih.

membiarkan kedua lengan atasku dan sisa telapak tangan dan kaki istriku terbakar dan memerah

menghirup angin laut yang membawa butiran2 air asin ke bibir kami.

hingga tertidur dalam perjalanan pulang ke peristirahatan

dan, ehm.. masih sempat bercengkerama dengan malaikatku setelah melihat bola api matahari sang Kuasa kembali ke peraduannya menjelang esok.

dan sekarang tidak ada kepenatan yang terasa di otot-otot yang membalut tulangku.

kau tau mengapa?

ya, terpaan angin malam yang berhembus di pinggir pantai Senggigi.

Subhanallah… sungguh elok ciptaanmu ya Allah

Alhamdulilah, sungguh mempesona seorang khadijah yang engkau titipkan di shaaf belakang saat Allahuakbar ku kumandangkan menemuimu…

-Senggigi, 24 Oktober 2013-

dalam sebuah perjalanan awal rumah tangga ini

Hari ini, genap tiga tahun usiamu nak
Ditengah berbagai kesulitan, dan jarak yang membentang memisahkanmu dari ayah
Kau tumbuh sempurna
Paras yang elok
Pikir yang cerdas
Riang nan gembira

Kau hadir sebagai beban yang terindah nak
Titipan yang menguatkan

Alhamdulillah,
malam ini ayah masih bisa memelukmu
Masih membentangkan tangan untuk bersandar kepala kecilmu

Selamat bertambah usia anakku sayang
Semoga sang maha pengasih selalu menjagamu dalam sehat, dalam nikmat islam
Semoga Allah segera memberikan kita waktu untuk dapat berkumpul kembali
Agar ayah, dan bundamu kelak dapat sepatah demi sepatah kata mengajarimu tentang akhirat dan tentang dunia

Demi Allah yang maha besar nak, maafkan ayah yang mungkin tanpa ayah sadari meletakkanmu dalam susah

Raja duarama,
Sesuai namamu
Kau sudah menjadi doa itu,
Setidaknya di hati dan kepala ku

Love u son

Teringat beberapa waktu lalu…
Kami tiba di parkiran bioskop kesayangan, bukan karena tempat ini yang terbaik di kota kami. Tapi ruang-ruang kelas tempat kami belajar mengobati sesama tak jauh letaknya dari gedung-gedung pugaran binaria ini.

Hari ini bukan bermaksud memanjakan kedua pasang mata kami dengan sinema-sinema memukau seperti sebelumnya. Penat yang amat sangat membawa putri ceriwis ini merengek manja memintaku ikut menjajal fasilitas refleksi disini.

Malang tak dapat diraih untung tak dapat ditolak, atau untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, refkeksinya hanya untuk kaum bapak. Aku tak rela tubuhnya disentuh laki-laki lain dan diapun tak ingin menukar lelahnya dengan tangan penjaja jasa usir penat dari kaumku ini.

Haluan rencana harus diputar, layar akan kami arahkan ke tujuan lain. Sinema mungkin dapat mengusir penat, setidaknya mengurangi setitik.

“bang, temenin adek ke toilet sebentar” sanggahnya dalam perjalanan menuju counter girl yang sering kali mengganggu kami dengan lelucon-leluconnya saat menyerahkan syarat nontonku, ya sekeranjang berondong jagung modern.

Aku tak menjawab, hanya seutas senyum mengiyakan.

Seperti biasa, dia selalu menghabiskan waktu yang cukup lama… Hmmm… Agak lama… Hmmm…. Ya, bener-bener lama di toilet.

Dia keluar dengan wajah pucat, menggandengku terburu2 dan setengah berlari menyeretku lembut kembali ke parkiran..

“penjelasannya nanti saja” terangnya.

Aku seperti biasa hanya menurut saja, mungkin dia ketinggalan entah dompet, telpon genggam, kacamata, atau apapun yang selalu sulit diingatnya.

Dan yang menggelitik usilku adalah pengakuan dalam ujar larangan setengah merajuknya.

“jangan melihat ke bawah….” rengeknya manja.

Dan tentu saja larangan itu semakin membuatku menundukkan kepala, dan beradu pandang dengan sepasang sepatu yang biasanya kembar identik itu.. Kiri beradik lanan, dan kanan berabang kiri.

Walaupun yang kulihat sepatu hitam di kanan beriringan dengan si biru di kiri..

Ah, gadis lucuku menjadi lucu dalam arti sesungguhnya…

^.^

aku temukan pelampiasan akan aroma manjamu nak.

aku dapatkan mata polos manja nan menggantungkan tangannya di leherku bermanja.

aku temukan tempat mencurahkan sayang pada mahluk indah seukuranmu.

aku juga dapatkan rasa sayang yang sama seperti bius yang kau tanamkan di girus terdalam otakku.

tapi, semakin aku alihkan sihirmu, semakin aku ingin ada disana.

menemani celoteh samarmu

tingkah bengalmu

keras kepalamu

ya..

kamu itu adalah aku

aku dalam dimensi yang berbeda

yang mungkin kau kelak akan paham, saat kau memiliki seorang dari rusukmu nak

Raja Duarama


Advertisements

    • Bayu Fajar Pratama: *idul adha maksud saya dok hehe :D
    • Bayu Fajar Pratama: Harus potong kambing lagi dong saya, dok -_- Selamat hari raya iduladhs. Mohon maaf lahir dan batin ya dokter :)
    • dokterleonardo: Hahahaha, iya bay.. tuker nama bay... terlalu banyak nama bayi di contact gw 🤣🤣

    Categories