dokterleonardo's Blog

   
Negeri ini sangat indah, dengan berjuta keelokan alamnya, dengan beraneka ragam hayati. Surga khatulistiwa kalau sebutan mereka pada kami. Belum lagi kalau kusebut adat istiadat kami yang tidak akan kau temui di belahan dunia manapun. Sungguh, inilah yang membuat bangsa ini dijajah berabad abad dimasa lalu.

Aku berkesempatan menjelajahi sejengkal tanah surga ini, mungkin bukan alam tak terjamah seperti yang para petualang jajaki. Namun, tidak ada deru kendaraan bermotor, tak tercium asap pabrik, tak terdengar pekik pencitraan para raja menurutku adalah alam tak tersentuh biadabnya manusia. 

Aku melarikan diri dari hingar bingar kehidupan modern dusunku.

Aku berteman perahu tua dengan dayung lapuk, mengarungi sudut sungaiku yang mungkin bukan terdalam lagi diseantero negeri ini.

Aku bertemankan joran bambu, dan kail berkarat.. Mencoba menemui ikan ikan sisa, yang tidak tersuapkan racun, dan tidak tersengat accu milik mereka sang tuan maruk.

Dipuncak perahu ini, kukibarkan secarik bendera lusuh, yang mulai lapuk dimakan rayap kapitalis. Warna merah nan berani yang telah memudar, sesuai dengan mulai pengecutnya laskar kami dalam memagari kampung ini. Warna putihnya yang melambangkan kesucian pun telah ternodai oleh kusamnya hati nurani.

Namun merah putih tua ini tetap berkibar, meskipun tau tak banyak darah yang akan tertumpah untuk membelanya.
#aku yang masih ingin melihat bendera ini berkibar gagah

aku mengalihkan rinduku pada letih

Kualihkan pada butir butir keringat

Kupacu setiap sel ototku berkontraksi

Agar aku tak mampu mengingat sosok kalian

.

Aku mengalihkan rinduku pada waktu

Kualihkan pada jarum jam yang terus berputar tanpa henti

Kubiarkan seluruh ragaku hanyut oleh masa

Agar aku tak sempat menyerukan nama kalian pada langit

.

Aku alihkan rinduku pada jenuh

Kualihkan pada jutaan kemacetan jalur berfikirku

Kubiarkan semuanya berkecamuk dalam benakku

Agar tak ada ruang untuk membayangkan kalian dalam pelukku

.

Aku alihkan rinduku pada amarah

Kualihkan pada ledakan emosi tak terbendung

Kubiarkan segala sumpah serapah mengisi tiap ucapku

Agar tak tersentuh nada nama kalian oleh lidahku

.

Aku alihkan rinduku pada Illahi

Kualihkan pada sajadahNya

Kubiarkan semua menenangkan jiwaku dalam perih

Agar Dia hentikan segala sesak ini

.

Sungguh aku merindu

sungguh aku harus tersenyum bahagia, miris atau bersedih nak.

Aku merasa de ja vu akan keadaan hari ini. Aku merasakan kepedihan yang mendalam akan kebahagiaan 

Hari ini genap setengah tahun kelahiranmu, mungkin bagi sebagian orang tak berarti, tapi tidak sama halnya dengan kami, ayah bundamu.

Ulang tahun setengah matang kalau kelakarku pada mereka.

Sungguh merupakan suatu anugerah mengingat saat kau dikirim ke hadapanku lewat rahim ibumu nak.
Namun, demi cita cita membesarkan kalian dengan layak, Harus kutinggalkan kau jauh diseberang sana

Aku hanya melihat tumbuhmu dari foto, dari setiap momen yang bisa diabadikan ibumu

Walaupun tak cukup, kupaksa bibir ini tersenyum, kupaksa batin menerima.
Dulu abangmu, dan sekarang kaupun harus tumbuh jauh dari pandangan ayah.
Semoga tiap untaian doa selalu menjagamu sehat, sholehah, dan selalu menghadirkan bahagia di rumah kecil ini. Dan semoga tetes air mata diujung doaku didengar oleh Sang Maha Pemberi.

Berkumpul bersama kalian.

#ayah

entah akan kukokang bedil esok hari.

Aku tau, musuhku tak sepadan.

Aku takut, ucapku pada lidah
Entah akan kutembak para penghadang itu

Aku sadar, tenagaku tak seberapa

Aku gemetar ucapku pada lidah
Tapi aku yakin, tak ada hari esok tanpa peperangan ini

Tak ada gelak tawa tanpa kulalui pertempuran ini

Tak akan lepas kami dari jerat ini

Jika tak sanggup kupenggal jendral perang mereka
Aku hilang kepercayaan pada goyahku

Aku curiga pada bimbangku

Aku sangsi pada gidikku
Aku terjun

Aku akan mengamuk

Aku yakin lidahku telah berhasil kubohongi

Aku tak akan berhenti meradang

Walau tau, nyawaku tak lama
#rdg16 030615

Wanita ini yang tubuhnya tengah mekar, lingkar perutnya bertambah entah dia atau tiga kali lipat.
Lingkar lengan dan pahanya pun membesar.
Pipi semakin membulat
Tapi entah kenapa dia terlihat makin cantik di mataku

Suara cempreng, kadang melengking kadang tak terdengar, terkadang sulit diikuti, terkadang nyinyir.
Tak henti mengeluarkan omelan manja.
Tapi entah kenapa aku mendengarnya bagai untaian nada

Sifat kekanakan, penuh rajukan, terkadang tak logis.
Sesekali ia terisak dalam haru.
Tapi entah kenapa dia terlihat dewasa di mataku

Iya
Dia istriku

Dalam bencinya akan racun.
Tak tega dia biarkan aku meracau.
Di berikan jarak, agar aku dapat melirik kelamku

Iya
Dia istriku
Hanya aku

Kali ini kembali kepada episode curcol.

Aku mulai senang menulis, walaupun tak pernah puas akan tulisanku, masih menyembunyikan hasil ku, masih merasa tulisanku hanya sampah yang mungkin tak bermakna.

Namun, kala keinginan menulis itu muncul, aku dapat bertahan di hadapan layar ku berjam-jam, berhari-hari. Mematut tiap untai kata, membongkar pasang setiap detil, apapun.

Seorang guru meyakinkan bahwa suasana melankolis adalah trigger ku. Aku memang selalu ingin menulis jika gundah. Menurutnya, itu gayaku.

Pernah sesekali aku menuliskan kebahagiaan, namun menurut mataku, tidak ada ledakan dalam tulisan itu. Tak seperti kesedihan yang mendayu-dayu, kebahagiaan tak bisa ku lontarkan dalam kata2. Apakah aku memang manusia dari masa sedih, sehingga ideku hanya tangisan.

Semangat yang berapi-api, cita2 dan harapan sepertinya bukan bagianku.

Apakah harus kuhentikan keran sendu ini? Agar tetesan gembira mengucur dalam cawanku.

#RSCM mengumpulkan semangat untuk TULISAN WAJIB KU

Surat untuk anakku…

Entah tulisan ini akan engkau baca kelak, atau terhapus oleh zaman, tersembunyi dibalik ilmu pengetahuan yang terus menuntut ruang penyimpanan kepada para hamba ilmu sehingga letak surat ini akan terpojok di sudut kelam, atau bahkan engkau tidak pernah berniat menelusuri rekam sejarahmu, sekelebat kisah yang bisa kuingat saat ini.

Entah ayah masih bernapas di sampingmu saat tulisan ini kau baca, entah seperti apa kisah hidup kita kelak di masa yang akan datang, entah kau akan menangis membaca surat ini, entahlah nak.

Aku akan tetap menuliskan kisah ini.

Sama seperti jejaring sosial yang pernah kubuat atas namamu, agar dunia mendengar kedatanganmu, empat tahun yang lalu.

Saat ini ayah, bunda dan adik kecil dalam perut bunda terpisahkan sangat jauh dari sosok kecilmu. Kalau tidak salah kuingat tiga ribu dua ratus kilometer dari titik tempat kau berdiri sayang. Kelak kalau sudah bisa kau cerna bagaimana menghitung, akan kuajarkan cara menduga seberapa menit, jam, atau hari perjalanan yang harus kita tempuh untuk saling bertemu.

Surat ini bukan untuk membahas itu nak, aku ingin menceritakan lima kisah dari empat tahunmu.

Kelahiranmu adalah hadiah buatku, bukan buatmu. Aku mendapat kebahagiaan tak terkira saat itu. Tak peduli aku akan sedikitpun urusan dunia, ujian izin praktek yang gagal berkali-kali pun tak kuhiraukan demi memandangi wajah mungilmu nak. Tapi, Sang maha pemurah tak tanggung-tanggung memberikan hadiahnya, kelulusan kudapatkan bersamaan dengan kelahiranmu. Aku diberikan segala hal yang selalu menjadi mimpi dalam malam-malamku.

Tahun pertama adalah satu-satunya tahun dimana sebuah hadiah kecil mampu ayah berikan. Beriringan dengan doa, aku potongkan dua ekor kambing untukmu. Ratusan kerabat, relasi, guru, mahasiswa ayah memenuhi rumah kecil kita, ikut merayakan hari jadimu. Kau digendong puluhan orang bergantian bak raja. Iya serupa nama yang kutitipkan padamu.

Tahun kedua aku hadiahkan kau tetesan air mata. Sejuta prahara menerpa kita. Hanya ketegaran untuk bertahan yang bisa ayah persembahkan di hari jadimu. Aku ingat, disela pilu yang kala itu harus kutelan, aku sempat menghias potretmu. Kutuliskan beberapa kata dan janji disana. Kukuatkan hati kita untuk terus berjuang. Entah kau anggap itu kado atau tidak.

Tahun ketiga, aku sudah melupakan semua kiamat masa lalu kita. Tetapi belum dapat kuberikan kau pesta mewah seperti anak-anak bangsawan. Aku terikat perjanjian dengan ilmu. Aku yakin kau paham, ini demi masa depan kita kelak. Demi menyekolahkan kau setinggi yang bisa diharapkan anak manusia. Aku tuliskan beberapa bait puisi untukmu nak. Aku bukan pujangga, aku bukan sastrawan, aku hanya seorang ayah yang sedang meneteskan beberapa bulir air mata rindu. Rindu akan anakku yang meniup lilin ulang tahunnya sendiri.

Dan hari ini, disela tarian jemari lelah ayah pada tombol-tombol komputer ini, merangkai kata demi kata yang akan menjadi kunci untuk perkumpulan kita kembali, menyelesaikan perjanjianku pada ilmu, ayah tak kuasa menahan rindu. Hendak memelukmu kuat, membawamu berlari dan mengabulkan semua pinta.

Lima kisah singkatmu yang terlintas detik ini.

Yang cukup adequat mengantar logikaku pada lamunan.

Sebuah mobil mainan yang pernah kau pinta beberapa pasang hari yang lalu masih kuingat. Dan pasti kujanjikan dalam hati.

Selamat ulang tahun nak, selamat panjang umur, dan semoga semua doa dalam sujud ayah dan bundamu didengar oleh Penguasa Alam semesta.

#kamar jaga PPDS Forensik FKUI

-ayah-


  • None
  • Bayu Fajar Pratama: *idul adha maksud saya dok hehe :D
  • Bayu Fajar Pratama: Harus potong kambing lagi dong saya, dok -_- Selamat hari raya iduladhs. Mohon maaf lahir dan batin ya dokter :)
  • dokterleonardo: Hahahaha, iya bay.. tuker nama bay... terlalu banyak nama bayi di contact gw 🤣🤣

Categories