dokterleonardo's Blog

Aku terduduk kekenyangan usai santap sahur sendirian di klinik tempatku bekerja.

Menahan mata setengah mengantuk usai membatu kesulitan pasien home care yang mengadu padaku tadi malam, selang invus yang terpasang padanya tidak mampu lagi menyalurkan cairan, entah tersumbat gumpalan darah, entah selangnya patah.

Saat segerombolan orang setengah berharap, setengah cemas, setengah bahagia masuk ke klinik berbondong-bondong.

Mereka membawa pakaian, kain, makanan, air panas.

Salah satu dari mereka jalan perlahan memapah perutnya yang membesar.

Ya, aku tahu…

Mereka menantikan kehadiran keturunan..

Biasa saja, tiada yang sangat istimewa..

Bagi kalian, bagi orang lain…

Tapi bagi mereka, dan bagiku ini sangat spesial.

Bagi mereka tentu, kenapa bagiku juga?

Ya.. kau tau..

Empat hijriyah yang lalu, tepat hari ini, dua ramadhan. Aku dipertemukan dengan malaikat kecil titipan Allah. Seonggok daging merah, bercampur lemak bayi, ditumbuhi bulu halus, menangis tanpa henti, kecil, sungguh, tapi bernyawa. Tangisnya tetap membahana saat kulafadzkan adzan ke telinga kecilnya, terpatah-patah, terbata-bata, bercampur cucuran air mata.

Air mata penuh bahagia,menyambut putra pertamaku. Gemetar penuh haru ku peluk sosok kecil itu.

Bahkan sampai hari ini, saat menuliskan sepatah kata tentang masa yang tak terganti itu, masih tersisa beberapa tetes air mata bahagia di sudut mataku. menetes tanpa kuasa membendung.

Dua Ramadhan yang kuselipkan dalam namanya sungguh membuatku rindu.

Rindu yang harus dipisahkan tiga ribu dua ratus kilometer.

Selamat hari jadi anakku sayang, ayah harus tutup tulisan singkat ini. Adzan subuh memanggilku, jangan khawatir nak, akan kusebut namamu berulang kali dalam sujudku.

Terima kasih atas rindu

 

 

Advertisements

beberapa hari yang lalu, tak sampai satu sentimeter mu

 

sebuah kantong ajaib,

berisi cairan

dan entahlah nyawa sudah mengisi ruang kecil itu atau belum,

hanya Illahi yang mengetahui saatnya.

 

aku pernah memiliki saat ini sebelumnya,

ketegangan yang berujung tangis bahagia saat kentong kecil itu berbuah

sepasang mata bening, paras elok, dan tangis renyah.

 

saat ini bidadari milikku, akan melalui tahapan penyempurna langkahnya

tertatih saat kentong kecil itu meronta nakal dalam gumpalan otot terdalam, merintih meminta usapan mesra padanya.

 

dan aku….

aku hanya tertegun, haru, bangga, dan takut

hanya berteriak doa dalam keheningan dunia yang hiruk pikuk.

semoga bidadariku tetap tersenyum dalam tatihnya…

semoga kantong itu kembali berbuah sepasang mata bening, sempurna, pelengkap kami.

 

12 Mei 2014

#kamar jaga PPDS Forensik

while typing my report

Aku melayangkan komplain ringan setengah menggoda tentang film dangkal, tanpa alur menarik, tanpa aksi menawan, tentang ekonomi, berdurasi panjang dan kami tonton dalam siksaan hipotermi plus desakan miksi.
Dan setengah tersipu, wanitaku menjawab..

“Aku pilih karena nama pemerannya
serupa dengan namamu.”

Do you have anyone better?

🙂

berhari-hari menjalani kehiduan rutin, berputar pada siklus yang selalu sama hampir setiap harinya membuat pasangan baru ini jenuh, iya.. aku dan istriku..

kami memulai hari dengan renungan berdua menghadap ke sang pencipta, berbenah diri sesegera mungkin agar mentari tidak mendahului langkah kami, mengisi sebongkah lambung dengan sarapan, dan berkelahi dengan hiruk pikuk jalan ibukota, berkutat dengan ilmu sihir demi kemanusiaan, lalu pulang setelah didahului kelam turun sampai ke dasar tanah.

hari ini kami memiliki sedikit waktu luang untuk sekedar mengulangi romantika sebelum kami dipersatukan dulu.

tapi teman, bukan kisah cintaku yang akan aku ceritakan kali ini. ada sepasang muda-mudi, hmm maksudku sepasang remaja, hmmm aku koreksi lagi deh, lebih tepatnya sepasang bocah.

mereka berdua berdiri tepat didepan kami, di antara antrian manusia haus hiburan berebut kursi, disebuah gedung sinema. tadinya aku berfikir mereka adalah saudara, seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya, hingga rela menemani si kecil menonton di bioskop dibandingkan duduk berlama-lama di depan layar monitor memantau perkembangan game onlinenya.

tapi, sudut mataku menangkap tangan sang kakak melingkar mesra di pinggang si kecil, aku terpana dan makin penasaran. benar saja tak lama puncak kepala sikecil dikecup mesra oleh sang kakak.

ya Allah, mereka berpacaran.

bahkan tinggi mereka nyaris sepinggangku

apakah bocah-bocah ini mengerti asmara? tahukah mereka tentang kasih? tidakkah mereka ingin berlari, meloncat, menari, bernyanyi dan berjingkrak?

aku melayangkan ingatan pada setengah umurku yang lampau, dimana aku masih berkeringat di terik matahari dengan benang layang-layang penghubung tanganku dengan benda ajaib yang ternyata bisa terbang menunggang angin

aku kah yang terlambat dewasa?

atau kalian yang terlalu awal?

 

aku bahkan lupa kepenatan berteriak dihantam gelombang kala perahu bulan madu kami menyusuri 3 pulau kecil nan elok di timur indonesia ini. Gili air, Gili trawangan, gili Meno.

bercengkerama dengan terumbu karang dan jutaan ikan kecil

disengat panasnya matahari laut

menipu mulut dua ekor ikan dengan potongan tentakel gurita ukuran sedang yang ditangkap dengan mudahnya oleh motoris kawak tadi.

mengayuh kaki berselaput katak dan sebelah tangan diatas riak gelombang kecil sembari sebelah tangan lain kami bertaut menggenggam kasih.

membiarkan kedua lengan atasku dan sisa telapak tangan dan kaki istriku terbakar dan memerah

menghirup angin laut yang membawa butiran2 air asin ke bibir kami.

hingga tertidur dalam perjalanan pulang ke peristirahatan

dan, ehm.. masih sempat bercengkerama dengan malaikatku setelah melihat bola api matahari sang Kuasa kembali ke peraduannya menjelang esok.

dan sekarang tidak ada kepenatan yang terasa di otot-otot yang membalut tulangku.

kau tau mengapa?

ya, terpaan angin malam yang berhembus di pinggir pantai Senggigi.

Subhanallah… sungguh elok ciptaanmu ya Allah

Alhamdulilah, sungguh mempesona seorang khadijah yang engkau titipkan di shaaf belakang saat Allahuakbar ku kumandangkan menemuimu…

-Senggigi, 24 Oktober 2013-

dalam sebuah perjalanan awal rumah tangga ini

Hari ini, genap tiga tahun usiamu nak
Ditengah berbagai kesulitan, dan jarak yang membentang memisahkanmu dari ayah
Kau tumbuh sempurna
Paras yang elok
Pikir yang cerdas
Riang nan gembira

Kau hadir sebagai beban yang terindah nak
Titipan yang menguatkan

Alhamdulillah,
malam ini ayah masih bisa memelukmu
Masih membentangkan tangan untuk bersandar kepala kecilmu

Selamat bertambah usia anakku sayang
Semoga sang maha pengasih selalu menjagamu dalam sehat, dalam nikmat islam
Semoga Allah segera memberikan kita waktu untuk dapat berkumpul kembali
Agar ayah, dan bundamu kelak dapat sepatah demi sepatah kata mengajarimu tentang akhirat dan tentang dunia

Demi Allah yang maha besar nak, maafkan ayah yang mungkin tanpa ayah sadari meletakkanmu dalam susah

Raja duarama,
Sesuai namamu
Kau sudah menjadi doa itu,
Setidaknya di hati dan kepala ku

Love u son

Teringat beberapa waktu lalu…
Kami tiba di parkiran bioskop kesayangan, bukan karena tempat ini yang terbaik di kota kami. Tapi ruang-ruang kelas tempat kami belajar mengobati sesama tak jauh letaknya dari gedung-gedung pugaran binaria ini.

Hari ini bukan bermaksud memanjakan kedua pasang mata kami dengan sinema-sinema memukau seperti sebelumnya. Penat yang amat sangat membawa putri ceriwis ini merengek manja memintaku ikut menjajal fasilitas refleksi disini.

Malang tak dapat diraih untung tak dapat ditolak, atau untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, refkeksinya hanya untuk kaum bapak. Aku tak rela tubuhnya disentuh laki-laki lain dan diapun tak ingin menukar lelahnya dengan tangan penjaja jasa usir penat dari kaumku ini.

Haluan rencana harus diputar, layar akan kami arahkan ke tujuan lain. Sinema mungkin dapat mengusir penat, setidaknya mengurangi setitik.

“bang, temenin adek ke toilet sebentar” sanggahnya dalam perjalanan menuju counter girl yang sering kali mengganggu kami dengan lelucon-leluconnya saat menyerahkan syarat nontonku, ya sekeranjang berondong jagung modern.

Aku tak menjawab, hanya seutas senyum mengiyakan.

Seperti biasa, dia selalu menghabiskan waktu yang cukup lama… Hmmm… Agak lama… Hmmm…. Ya, bener-bener lama di toilet.

Dia keluar dengan wajah pucat, menggandengku terburu2 dan setengah berlari menyeretku lembut kembali ke parkiran..

“penjelasannya nanti saja” terangnya.

Aku seperti biasa hanya menurut saja, mungkin dia ketinggalan entah dompet, telpon genggam, kacamata, atau apapun yang selalu sulit diingatnya.

Dan yang menggelitik usilku adalah pengakuan dalam ujar larangan setengah merajuknya.

“jangan melihat ke bawah….” rengeknya manja.

Dan tentu saja larangan itu semakin membuatku menundukkan kepala, dan beradu pandang dengan sepasang sepatu yang biasanya kembar identik itu.. Kiri beradik lanan, dan kanan berabang kiri.

Walaupun yang kulihat sepatu hitam di kanan beriringan dengan si biru di kiri..

Ah, gadis lucuku menjadi lucu dalam arti sesungguhnya…

^.^

Advertisements

    • Bayu Fajar Pratama: *idul adha maksud saya dok hehe :D
    • Bayu Fajar Pratama: Harus potong kambing lagi dong saya, dok -_- Selamat hari raya iduladhs. Mohon maaf lahir dan batin ya dokter :)
    • dokterleonardo: Hahahaha, iya bay.. tuker nama bay... terlalu banyak nama bayi di contact gw 🤣🤣

    Categories